Welcome to My Blog!

what time is it?

Halaman

Find an article!

Senin, 16 Desember 2013

Senin Maha Kacau

           Prolog.
           Begini asal muasalnya. Kisah ini terjadi pada tanggal 16 Desember 2013. Dan saat saya mengupdate postingan ini yaitu tanggal 17 Desember 2013 (16.30 WIB) saya sudah menjadi makhluk dengan perasaan yang berbeda. Entahlah tiba-tiba perasaan itu berkurang. Mungkin karena sudah jelas terlihat saya tidak ada harapan kedepannya. Untuk apa mengharapkan sesuatu yang tidak pasti. Dan tidak seharusnya wanita menghabiskan harga dirinya demi menunjukkan cintanya kepada si pria. Benar tidak? Baiklah, inilah kisahku

           Kemarin malam, tidak ada kegiatan lain bagiku selain menonton televisi dan berkirim pesan. Aku telah banyak bercengkrama dengan Tutut melalui SMS. Entahlah selalu saja ada hal yang menarik untuk diperbincangkan. Detik demi detik, pesan demi pesan pun tak terasa walaupun aku hanya membalas smsnya saat sponsor. Tak kusangka tiba-tiba Tutut yang bernama asli Guntur sengaja menawarkan diri untuk menemaniku jalan-jalan. Sepertinya dia mulai kasihan padaku. Kesepakatan jatuh pada pukul sembilan esok hari saat aku dan Tutut akan berjumpa. Akhirnya aku bisa tertawa iblis setelah berkali-kali gagal mengajaknya.
           Tak terasa malam semakin larut. Ponselku berdering. Kulihat layar ponselku. 1 pesan belum dibaca. Pesan dari Tutut.
           Aku ngantuk, ndut. Aku bobo dulu ya. Night :v
           Ya begitulah dia, sering meninggalkanku sendirian di malam sunyi.

***


           Pagi ini aku sudah ada janji dengan teman lelakiku untuk berkeliling kota. Tutut bersedia menemaniku, bukan, lebih tepatnya bersedia menjadi sopirku selama sehari untuk mengisi waktu luang sebelum kegiatan ekstrakulikulerku berlangsung. Sebagai majikan aku telah memutuskan untuk pergi ke sebuah toko buku di salah satu wilayah di sudut Surabaya.
           Untung saja pagi ini aku tidak bangun kesiangan. Kegiatan saat liburan pun pasti berbeda. Aku sempatkan menonton acara televisi kesayanganku, Spongebob Squarepants.
           Seperti sebelumnya, aku masih belum bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Meskipun waktu untuk bertemu dengan Tutut ditunda setengah jam tetap saja aku baru bersiap-siap pukul sembilan. Benar-benar memalukan. Tidak salah jika pertemuanku dengan Tutut tidak seperti perjanjian. Entahlah sepertinya ada saja halangan hari ini. Mulai dari kerudung yang akan aku pakai jatuh ke tempat cucian baju kotor sehingga aku harus mencuci dan menyetrika ulang.
           Ditambah lagi, kunci rumah milikku dibawa kakak juga ponsel mama yang tertinggal di rumah. Dengan begitu aku harus mengantar ponsel milik mama ke kantornya sekaligus meminjam kunci rumah milik mama untuk mengunci rumah yang kutinggal tanpa terkunci. Sungguh hari yang melelahkan untuk bertindak bodoh. Sehingga lagi-lagi aku membuat Tutut menunggu cukup lama.
           Setelah urusan dengan rumah selesai, aku segera tancap gas kendaraanku ke arah sekolah. Motor yang sudah cukup tua ini masih cukup tangguh ngebut di jalanan meski hanya ada satu masalah yaitu rem. Dengan cuaca hujan rintik seperti ini tentu tidak mungkin aku ngebut seperti biasanya. Rem yang kurang cakram sedikit sulit ditakhlukkan di jalanan basah. Sudah bisa dipastikan semakin banyak waktu yang aku butuhkan untuk perjalanan di cuaca seperti ini.

***

           Di sekolah hujan tidak terlalu deras seperti sebelumnya. Jalanan di sekitar sekolah masih sedikit yang basah jadi aku tidak perlu memarkirkan motorku di parkiran dalam.
           Secepat mungkin aku mengeluarkan ponsel dari tasku yang berbahan dasar plastik. Kuketikkan sebuah pesan kepada Tutut untuk segera menemuiku. Gila sekali, inilah saat dimana aku yang harus menunggunya. Parahnya aku tidak mungkin diijinkan masuk untuk mencarinya di dalam gedung sekolah. Semua itu karena pakaianku. Aku pikir hari ini bukanlah hari sibuk sehingga aku bisa keluar masuk gedung sekolah dengan pakaian bebas. Aku tidak menyangka akan sekacau ini.
           Aku cukup panik akan ketidakhadiran Tutut kali ini. Atau sepertinya ia sudah kembali pulang.
           Tak lama setelah itu, ponselku berbunyi. Pesan dari Tutut mengatakan dia sedang duduk-duduk bersama anggota robotika yang lain di depan parkiran dalam.

***
           "Kamu kutungu daritadi, Tut. Darimana saja kamu?," kataku kesal.
           "Aku daritadi disini nungguin kamu," jawabnya mantap.
           "Jadi nggak ini? Gak usah aja jalan-jalannya. Gimana nanti jadi ada robot"
           "Nggak tau, tanya Mas Terdy. Anak-anak lainnya juga belum dateng," jawab Tutut.
           "Iya, belum aku SMS," jawabku pendek lalu meringis.
           "Hadeh ndut, kan udah aku kabari kemarin. Aku minta tolong". Tutut menghela nafas.
           "Aku belum sempat. Baru sempat sekarang. Ini ketikkan nanti aku kirim jangan lupa Mas Panda juga," jawabku bersemangat.
           Kali ini aku kembali mendapat penolakan. Tutut tidak mau mengetikkan pemberitahuan itu untukku. Baiklah itu adalah momenku untuk eksis di kalangan anggota robot lainnya. Dan tentu saja orang pertama yang kuharapkan kehadirannya adalah Mas Memet. Mas Memet adalah orang yang kini sedang dekat denganku saat ini. Dan tujuanku datang ke sekolah lalu mengikuti kegiatan robotika kali ini tidak lain dan tidak bukan adalah untuk bertemu Pandaku sayang.
           Sudah beberapa kali aku berusaha menariknya kembali mengikuti robotika supaya aku dapat bertemu wajah imutnya. Namun apa daya selalu gagal. Bukan hanya karena dia sibuk dengan tugasnya di kelas XII namun juga karena alasan lainnya yang akupun tidak tahu.
           Entahlah, demi apa aku masih bertahan duduk di bangku ini meskipun hujan deras tepat terjadi di depanku. Sedangkan Tutut, dengan keangkuhannya bertekad pulang setelah mengetahui agenda ekstrakulikuler robotika kali ini ditunda. Hanita dan Dimas pun sama. Mereka sedang asyik dengan urusannya masing-masing. Hanya aku yang masih bertahan duduk di bangku itu sendirian menanti datangnya pesan dari Mas Panda.
           Beberapa hari yang lalu memang dia berkata bahwa aku bisa menemuinya hari ini apabila rindu di diriku mulai menyerang. Namun tidak seperti kenyataannya. Ketika aku meminta dirinya menemuiku di halaman sekolah dia malah entahlah bisa dibilang asyik dengan temannya.

***

           Cukup sudah kesengsaraanku hari ini. Aku sudah tidak tahan. Aku pun mengajak Hanita menemaniku ke kantin. Sepertinya disana jauh lebih nyaman daripada duduk di tempat sial ini.
           WOW!! Baru kali ini aku melihat kantin penuh dengan sekumpulan manusia. Penuh sesak hampir tidak tersisa. Ketika aku berjalan memasuki kantin, aku melihat sesosok pria yang kurindukan.
           Oh tidak!! Itu dia! Aku hanya berpura-pura tidak melihat dirinya berdiri di salah satu sisi kantin. Aku pikir sudah cukup untuk pembicaraan hari ini. Aku masih kecewa. Dia sepertinya tidak menganggapku ada.
           Tidak bisa kupungkiri memang sesekali aku melihat ke arahnya. Ya, aku merindunya. Melihatnya sekali hari ini sepertinya cukup untuk menutupi kekecewaan di hatiku.
***
            Di kantin aku hanya bisa bersikap konyol sambil menunggu Hanita memesan makanan. Dan dari tempatku berdiri aku mendengar seorang gadis memanggil-manggil namaku. Bahkan nama lengkapku tidak luput dari teriakannya. Hufftt... Aku lagi-lagi harus berpura-pura tidak mendengar teriakan itu. Aku tahu itu adalah panggilan dari salah satu teman Mas Panda. Namun biarlah kuberikan kebebasan bagi mereka untuk memanggil-manggil namaku hingga mereka berhenti sendiri.
            "Han, lama banget sih!," gerutuku pada Hanita.
            "Ssstttt... Ina diem!," jawabnya mencoba menghentikan gerutuanku.
            Benar-benar konyol. Aku hanya berdiri tanpa melakukan apa-apa untuk menunggu Hanita menerima pesanannya. Tentu saja aku dan Hanita masih berdiri karena kursi kantin sudah terisi semua.
            Aku berusaha mencari teman. Aku mulai mengirim pesan kepada Dimas untuk segera menemuiku untuk mengambil helm miliknya yang dititipkan padaku. Tapi aku baru sadar, itu bukanlah ide baik. Aku telah mendatangkan seseorang yang dapat mem-bully-ku saat itu juga.
            Dugaanku tepat! Setelah mengambil helmnya dari tanganku, Dimas pun segera memulai bully-annya. Dia mulai memanggil-manggil bahkan menunjuk-nunjuk ke arah Mas Panda berdiri. Big mistake!!
           Berhubung sudah tidak ada alasan bagiku untuk menginjakkan kaki di kantin ini. Aku segera mencari teman untuk kembali ke tempat parkir. Namun, lagi-lagi, niat baikku itu tertunda. Aku melihat Mas Hari, aku ingin mengobrol dengannya. Meskipun sebenarnya aku tidak memiliki bahan pembicaraan dengannya. Mungkin karena aku hanya sedang ingin berbicara dengan orang yang pernah kusukai selama satu minggu itu. Satu-satunya hal yang dapat diperbincangkan dengan master robotika itu adalah dengan membicarakan kelanjutan pembuatan robot untuk lomba berikutnya.
           Namun entah apa yang dipikirkannya, ia juga menghubungkan pembicaraan kami dengan Mas Panda. Tentu saja hal itu terjadi sebab saat tempat pembicaraanku dengan Mas Hari cukup dekat dengan keberadaan Mas Panda dan kawan-kawannya.
           Lagi dan lagi aku dibully. Tidak sesekali pula aku dijodohkan oleh teman-temanku bahkan teman dari Mas Panda. Oh God! Belum selesai juga kekacauanku hari ini.

***
           Butuh waktu yang tidak sebentar bagiku untuk bisa terlepas dari keadaan terdesak itu dan segera kembali ke rumah.
           Sesampainya di rumah aku menyalakan komputer dan dalam waktu singkat aku telah berseluncur di dunia maya. Seperti biasanya aku kembali bercakap-cakap dengan Tutut dan Mas Panda di akun jejaring sosial Facebook. Sikap Mas Panda berbeda sekali ketika di SMS, di dunia maya dan di dunia nyata. Di sms dan di dunia maya dia sangat berhasil membuatku tertawa. Sedangkan di dunia nyata ia hanya bisa membuatku menangis.
            Aku telah bercakap-cakap dengannya melalui Facebook sejak sepulang sekolah tadi. Banyak hal yang dapat aku simpulkan dari dirinya. Semua hal yang berhubungan dengannya tampaknya menyenangkan. Awalnya tampak Tuhan membantuku untuk semakin dekat dengannya. Tuhan mengirimkan mbak Veve ke dalam hidupku. Dia tiba-tiba mengirimiku pesan via Facebook. Percakapanku dan mbak Veve tidak banyak. Mbak Veve ingin berpartisipasi dalam menyatukan aku dengan Mas Panda.

***


            Dalam Facebook, setiap detik percakapanku dengan Mas Panda terasa menyenangkan. Meski hanya dalam bentuk tertulis namun tetap saja berarti. Daripada tidak ada kenangan sama sekali jadi terpaksa itu adanya. Cuacana hari ini yang kurang baik membuat kondisi tubuhku tidak fit. Sepulang sekolah tadi hujan masih rintik. Aku nekat pulang tanpa mengenakan jas hujan. Aku hanya mengenakan beratasan jaket dengan bawahan rok. Itulah asal mula kekuatan otakku melemah disuatu percakapanku dan Mas Panda yang menurutku penting. Percakapan ini dapat memperjelas hubunganku dengan Mas Panda selanjutnya.
            Ada waktu dimana aku senang menjadi temannya. Namun ada juga waktu disaat aku benar-benar ingin diakui sebagai pacarnya. Semua ucapanku, tindakanku dan perhatianku selama ini padanya adalah suatu proses yang kuharapkan dapat membuahkan hasil. Sayang, dengan kerendahan IQku aku tidak bisa memahami ucapan terakhirnya. Dengan begitu aku tidak tahu harus bersikap seperti apa padanya. Dengan begitu pula harapanku kandas. Harapanku terlalu jauh. Tidak selayaknya aku memimpikan hal yang tidak mungkin terjadi :') Terimakasih Tuhan kau telah berikan aku waktu untuk bersamanya meskipun hanya sesaat.
            Aku masih dapat mengenangnya melalui semua bentuk tulisan dari pesan dan dari Facebook-ku. Aku hanya bisa menunggu masa kebosananku terhadapnya yang sepertinya tidak mungkin terjadi :')






2 komentar:

Mengenai Saya

Surabaya, East Java, Indonesia