Prolog.
Begini asal muasalnya. Kisah ini terjadi pada tanggal 16 Desember 2013. Dan saat saya mengupdate postingan ini yaitu tanggal 17 Desember 2013 (16.30 WIB) saya sudah menjadi makhluk dengan perasaan yang berbeda. Entahlah tiba-tiba perasaan itu berkurang. Mungkin karena sudah jelas terlihat saya tidak ada harapan kedepannya. Untuk apa mengharapkan sesuatu yang tidak pasti. Dan tidak seharusnya wanita menghabiskan harga dirinya demi menunjukkan cintanya kepada si pria. Benar tidak? Baiklah, inilah kisahku
Kemarin malam, tidak ada kegiatan lain bagiku selain menonton televisi dan berkirim pesan. Aku telah banyak bercengkrama dengan Tutut melalui SMS. Entahlah selalu saja ada hal yang menarik untuk diperbincangkan. Detik demi detik, pesan demi pesan pun tak terasa walaupun aku hanya membalas smsnya saat sponsor. Tak kusangka tiba-tiba Tutut yang bernama asli Guntur sengaja menawarkan diri untuk menemaniku jalan-jalan. Sepertinya dia mulai kasihan padaku. Kesepakatan jatuh pada pukul sembilan esok hari saat aku dan Tutut akan berjumpa. Akhirnya aku bisa tertawa iblis setelah berkali-kali gagal mengajaknya.
Tak terasa malam semakin larut. Ponselku berdering. Kulihat layar ponselku. 1 pesan belum dibaca. Pesan dari Tutut.
Aku ngantuk, ndut. Aku bobo dulu ya. Night :v
Ya begitulah dia, sering meninggalkanku sendirian di malam sunyi.
Begini asal muasalnya. Kisah ini terjadi pada tanggal 16 Desember 2013. Dan saat saya mengupdate postingan ini yaitu tanggal 17 Desember 2013 (16.30 WIB) saya sudah menjadi makhluk dengan perasaan yang berbeda. Entahlah tiba-tiba perasaan itu berkurang. Mungkin karena sudah jelas terlihat saya tidak ada harapan kedepannya. Untuk apa mengharapkan sesuatu yang tidak pasti. Dan tidak seharusnya wanita menghabiskan harga dirinya demi menunjukkan cintanya kepada si pria. Benar tidak? Baiklah, inilah kisahku
Kemarin malam, tidak ada kegiatan lain bagiku selain menonton televisi dan berkirim pesan. Aku telah banyak bercengkrama dengan Tutut melalui SMS. Entahlah selalu saja ada hal yang menarik untuk diperbincangkan. Detik demi detik, pesan demi pesan pun tak terasa walaupun aku hanya membalas smsnya saat sponsor. Tak kusangka tiba-tiba Tutut yang bernama asli Guntur sengaja menawarkan diri untuk menemaniku jalan-jalan. Sepertinya dia mulai kasihan padaku. Kesepakatan jatuh pada pukul sembilan esok hari saat aku dan Tutut akan berjumpa. Akhirnya aku bisa tertawa iblis setelah berkali-kali gagal mengajaknya.
Tak terasa malam semakin larut. Ponselku berdering. Kulihat layar ponselku. 1 pesan belum dibaca. Pesan dari Tutut.
Aku ngantuk, ndut. Aku bobo dulu ya. Night :v
Ya begitulah dia, sering meninggalkanku sendirian di malam sunyi.
***




